Terapi Syukur : Kacamata kuda



“Tak semuanya kamu harus mengerti bukan ?” kata Tuhan semesta AlamPebyana Susanto

Bil… Rif …Dia sudah gak ada…” Agus lunglai di depan beranda rumah kontrakan kami tempat kami semua berkumpul..

Baru aja Adit kasih kabar, Dia akan dimakamkan di Jakarta, pesawatnya sore ini dari Singapore .” Tambah Agus

Aku hanya bisa duduk terdiam. Melipat kedua kakiku, dan menyandarkan daguku di kedua lututku usai dengar berita itu. Tatapan kami semua kosong.

Billy tak berhenti mondar-mandir tak percaya. Setelah terperangah tak percaya…Namun tak ada dari satupun kami masuk lagi ke dalam dan lebih memilih langsung menuju mobil....

Langit mendung, sekakan menandakan dunia kami sedang dirundung duka ini. Kami baru saja mendengar kabar, bahwa teman kami, sahabat kami, saudara kami….pergi…untuk selama-lamanya..

Sahabat yang melengkapi semua kebersamaan ini. Orang yang harusnya jadi orang paling sukses di negeri ini di jaman kami. Kini…’pulang lebih awal’ karena sebab yang tak ada yang mengerti…


Di perjalanan : Sedikit tentang sahabat kami itu….

Dunia bisa kita taklukan bersama-sama ! Itu Cuma masalah berkat dan niat !” aku menirukan kata-katanya. Teringat kata-katanya dalam lamunanku barusan ketika kami bermain kartu bersama sambil habiskan waktu di salah satu malam, di malam-malam ‘biasa’ yang kini terasa akan begitu dirindukan, paling tidak untuk kami. Lalu Billy dan Agus serentak menambahkan ”Yah..begitulah” dan kami tertawa dengan nada mengambang bersama mengingat kata ‘yah begitulah’ yang paling sering diucapkannya mengakhiri bicaranya.

Yang aku ingat, dia selalu bisa memberikan motivasi dan mimpi dari ketidaksempurnaan dirinya. “Aku apa adanya” katanya. Dia adalah pemikir hebat. Dia bisa menyihir pendengarnya mempercayai teori-teori ‘hebat’nya soal bisnis dan ekonomi. Tapi anehnya, selain ‘calon’ ekonom hebat, dia adalah penggombal yang hebat bagi para wanita... Otaknya seakan akan bekerja sepuluh kali lebih kreatif untuk hal yang satu ini. Dan dia terus begitu sampai masa-masa terakhir kami sering bertemu.

Gw masih gak percaya dia udah gak ada…” Kata Agus. “Dia belum buat apa-apa gitu. Dia baru sampai pada satu mimpinya, dan belum yang lainnya” tambahnya.

Yah mungkin, Tuhan lebih mau dia selesai sampai disana. Cintanya. Pembuktian cintanya. Walau cuma sebentar, sangat sebentar” jawabku

Tapi seharusnya dia bisa dapatkan hasil jerih payahnya kan ? bukan sampai disini. Kalian ingat gak, waktu libur akhir tahun semester 7, dia dikontrakan sendirian. Selesaikan skripsi…” imbuh Billy.

Yah emang sih, tapi gw juga masih ingat ketika dia bener-bener kayak orang linglung waktu krisis ekonomi tahun-tahun kemarin itu” jawabku lagi..

Dan kamipun terus berbicara tentangnya sepanjang perjalanan..


Sepanjang perjalanan : ketangguhan yang runtuh….

Kalau kembali mengingat sahabatku itu, dia adalah manusia yang percaya diri. Tak ada yang mengira dia lahir dari keluarga yang ‘kurang’ utuh. Dia tipikal pemimpin, walaupun jelas pemimpin punya keburukan dan kebaikannya masing.-masing..

Awal aku mengenalnya dia adalah manusia ‘kelebihan energi’. Dia punya sejuta gagasan yang brilian. Dan ia takkan jatuh kalau tantangan tidak membuatnya sakit badanniah.

Dia adalah orang yang mengagungkan cinta dan kesetiaan. Dan cerita cintanya selalu layak jadi novel atau cerpen paling tidak.

Tapi melihat hari ini, dia terlalu lama ‘kehujanan’ oleh rasa sesak rupanya. Dia rupanya tak sanggup mengalahkan ketertekanan ada di rumahnya yang tak akur karena itu selalu jadi cerita keluh kesahnya. Hidupnnya mulai tak berpola kulihat memang waktu-waktu itu walau tak kusangka sebegitu dalamnya. Dia bukan lagi dia yang cukup dibilang beriman memang, dan dia juga bukan orang yang detail yang mau menjalankan segalanya. Dia kehilangan prioritas. Dia mengalami kerusakan orientasi yang fatal rupanya.

Padahal diawal-awal usai lulus kuliah, kuingat dia masih bersemangat dengan visi-visinya. “Tuhan tidak akan membiarkan aku menanggung angkatan lebih berat dari mampuku” katanya. Dia mencoba buat ini dan itu. Sambil bekerja, sambil menjalankan semuanya. Dia termasuk angkatanku yang mulai bekerja lebih awal. Dan dia satu-satunya orang yang bilang “yah begitulah bekerja..kalau bisa tetap usaha sendiri, lebih capek tapi lebih berarti”.

Usai kontrakan kami usai di dekat kampus, kami beberapa kali masih bertemu. Dia memang terlihat mengurus. Tapi dia masih dengan cerita cintanya yang silih berganti. Hingga krisis ekonomi menghampiri negeri inipun dia tak pernah kehabisan cerita cinta yang ini dan itu dan dia juga sempat bilang “cinta yang membuatku tetap tangguh sampai sekarang, bukan lagi visi masa muda kita yang sombong, itu mudah terkikis”.

Namun rupanya lewat masa-masa itu merobohkan jagoan dari masaku itu.

Dia baru saja dapat kekasih saat itu,padahal beberapa pekan sebelum libur akhir tahun. “This Christmas will be a very special christmas for me” katanya. Kekasihnya baik, dia teman kami, dan dia pendukung yang hebat buat sahabatku itu. Namun dia sudah terpukul dalam…

Hingga satu hari di awal tahun aku mendengar dari teman sekantornya yang seangkatan kami, bahwa dia dilarikan ke Singapore . Dia collapse tanpa jelas. Dia sakit, koma.

Namun satuhal yang kuingat dari kata-katanya di salah satu pertemuan terakhir kami. “Kadang gw tidak mengerti semua maksud hidup gw. Makin gw berusaha, makin besar gw merasa gagal. Dan rupanya Tuhan hanya mau kita menyadari satu hal kalau begitu. Bahwa jangan cari jawaban, tapi kita harusnya cari cara menghidupi kehidupan kita yang diberikanNya.Dan mengasihi itu salah satu cara yang misterius untuk menjalaninya

Di ujung perjalanan-di depan jasad sahabatku : Seharusnya…yah seharusnya…dan hanya seharusnya….

Namun kini sahabatku sudah benar-benar terbaring dengan senyum dihadapanku. Isak air mata bapak, ibu dan saudari perempuannya, membuktikan padanya satu hal. Bahwa dia tetap dicintai apapun adanya. Dan kurasa dia tahu itu.

Namun Tuhan juga mau punya cerita lain dikeidupan kita masing-masing yang ditinggalkannya mungkin.. Dan kurasa dia bukan gagal menghadapi dunianya..Dia hanya sudah menemukan jawaban Tuhannya. Dengan caraNya

Walau aku tak tahu apa itu, karena kami tak sempat bicara lagi semenjak dia ke Singapore .

Lalu kekasihnya datang hampiri aku “rif, ini ada titipan dari dia buat kamu dan anak-anak. Kalian harus tahu dia bangga punya sahabat seperti kalian” katanya.

Dan kubaca secarik kertas itu :

Untuk sahabat-sahabatku,

Teman, aku takut aku tak bisa bertemu kalian lagi. Aku takut ‘kebodohanku’ membuatku kalah dan tak bisa berbagi ini pada kalian lagi. Orang-orang yang membuatku belajar banyak hal dalam hidupku.

Kalian apa kabar ? kuharap kalian baik-baik saja. Kutitipkan dia yang kusayangi bersama surat ini. Jagailah dia sebagai sahabat sepertiku kalau terjadi apa-apa padaku. Karena dari dia aku menemukan jawaban dari ini semua.

Kalau dulu aku terus mengeluh, aku sesali itu. Rupanya Tuhan mau kita seperti kuda penarik kereta yang berkacamata teman. Kuda itu bisa berlari kencang karena dia focus. Dan focus hidup kita baiknya pada kasih yang tak bercela. Karena kasih dari kekasihku dan Tuhanku aku tahu bahwa hidup akan berharga kalau dipenuhi senyuman, introspeksi, pengampunan dan syukur.

Jangan pernah kalian sesali kalau kalian gagal. Kegagalan memang bukan kemenangan yang tertunda buatku. Kegagalan adalah kesempatan untuk membuktikan kalau kita layak gagal dan pembuktian bahwa kita akan tetap setia pada focus hidup penuh syukur kita, bukan untuk menyalahkan apa yang memang sudah salah.

Jangan menoleh kebelakang karena kalian ingin merasa benar. Tidak ada yang mutlak benar. Aku membuktikannya. Ketika aku merasa benar melakukan sesuatu disitulah aku akan mulai mengalami kesalahan.

Teman…aku ingin membagi rahasia di akhir-akhir hidupku seperti dulu biasa kita bicara ketika lewat sudah jam 10 malam. Kadang kita sibuk mencari dan menuju sesuatu yang kita cari. Tapi ketahuilah..sebenarnya caranya hanya sederhana..yaitu JALANI DENGAN TULUS HATI. CINTAI APA YANG KAMU JALANI dan selebihnya Tuhan akan memberikan jawaban-jawaban tak terpikirkan.

Otakmu bukan untuk mencari tapi untuk berpikir bagaimana men-AMIN-I dan akan terus demikian. Jangan biarkan kepalamu pecah sepertiku untuk sesuatu yang sebenarnya mudah kamu temukan.

Karena kadang Tuhan begitu dekat namun kamu terus mencari. Dan yang kamu cari sebenarnya kepuasan atas dirimu sendiri. Bukan yang Ilahi.

Bukan begitu ? Tuhan bersamamu sahabat-sahabatku.


Teriring salam,

Sahabatmu.

Dan ternyata benar. Dia telah menemukan cita-citanya. Mengasihi walau seperti kuda di kereta kencana. Harus maju saja kedepan dengan kaca mata kudanya. Sehingga tak selalu harus tahu kanan dan kiri.

Selamat jalan kawan…selamat jalan….