RESAP




Kamu terlalu banyak tahu! Atau..kamu sok Tahu!
Kamu terlalu banyak bicara...tak banyak makna jejak yang ada..
Kau terlalu banyak bercerita..lalu apa pesannya?
Terlalu banyak alasan! Apa hasil dan kebenarannya?


Meminjam sifat air dan tanahnya
Air itu tidak masalah diinjak direndahnya
Dia tidak berteriak karena dibuang ke tanah atau kemana
Namun dia meresap mencari gunanya bagi tanahnya..
Ia meresap...membawa manfaatnya

Jangan banyak alasan!
Kamu harus resapi..diam...
Imani...dan Lakukan!
Selanjutnya biarkan ditentukan Tuhan

Hendak




Ada kelegaan yang bisa dibeli serupa kenyang
Ada kenyamanan yang bisa diraih berupa tempat
Namun yang tak terlupa adalah rasa dari nikmat
Yang tak terbayar dari tempat adalah kenangan

Ada waktu yang bisa dipakai berupa pelesiran
Ada juga sensasi kepala ingin pecah saat semua bertumbukan
Tapi yang takkan tersampaikan adalah kebersamaan
Dan yang tak ternilai adalah pengalaman.

Ada sejuta manusia lewat dikehidupan
Tertulis sejuta cerita dalam perjalanan
Namun yang berharga disebut persebut persahabatan
Yang selalu dirindukan adalah cerita tangis dalam pelukan.

Semua bisa Tuhan berikan dan tentukan
Namun hendak adalah kebebasan
Dia memberi apa yang kita bisa lalui
Namun semua kembali pada kita memberi makna dan arti...

Amin




Aku ingin menguasai dunia
Namun aku gagal pada tingkat pertama
Aku ingin memimpin negeri
Tapi aku tak ingin hidupi politik polusi..
Aku berharap jadi tuan kaya
Namun harta kulihat tak membawa bahagia
Aku ingin disisiku tampan atau jelita..
Tapi..ntah kenapa setia lebih berharga
Aku ingin juara di akademia...
Namun kurasa kini makna lebih dari segala...
Aku ingin bermain sepuasnya..
Namun ilmu adalah harta usia belia...
Aku ingin bahagia tanpa takut amarah ayah bunda
Namun kutahu mereka ingin terbaik untuk adinda..
Aku ingin mimpi jadi nyata
Namun Tuhan seakan berkata belum waktunya..

Apa ini kecewa?
Atau ini memang demikian adanya?
Kata hati kecil ini pada nyawa
Yang DIA ingin hanya.. Aminni Saja
Maka Ia akan memberimu segalaNYA

ADA


kudedikasikan tulisan ini untuk sahabatku Aditya Hamzah dan Damha Izal Ylazohg

"om permisi pulang dulu..." kata Izal mengikuti kata-kataku yang permisi pulang, yang dibalas dengan "iya hati-hati dijalan ya nak, jangan balik-balik lagi...dablek...." jawab sang ayah, dan tawapun pecah seketika. Dan begitulah bapak kedua sahabatku itu...setidaknya dimataku...

Semua punya ceritanya sendiri...
di mataku, di matamu, tentang sosok itu.

jujur kita terlalu subyektif kadang melihat si hidup
kita melihat dan merasa sesuai apa yang kita suka..
kita hanya berharap dan meminta orang bisa menjadi yang kita minta..
yang baik kita suka, yang jelek untuk menerima aku belum sanggup

namun bukankah itu kehidupan?
di mataku seseorang baik...
di mata sakit hati ia bisa begitu tengik...

namun aku tergelitik untuk men zoom out pola lihat ini semua..
bahwa pernahkah kita berpikir kenapa kita lahir disana?
kenapa kita kenal 'si itu' bukan 'si dia'?
atau kenapa aku hidup dibelahan bumi sini bukan disana?

Dulu orang berkata gajah mati meninggalkan gadingnya
orang besar mati meninggalkan cerita
kenapa harus orang besar kutanya? apa karena gajah jadi peribahasa?
lalu dimana tempat hati dan orang terdekat nantinya?

kita tidak tahu kapan kita berpulang
dan kita percaya demikian...
kenapa kita harus tidak percaya pada kenyataan..
tentang misteri hadirnya seseorang dalam kehidupan?

aku bicara disini bukan berarti aku tak pernah sakit hati
aku justru bicara bahwa karena pernah sakit dan nyeri
namun lihatlah cinta kedua sahabatku di peraduan itu kini...
atau semua kehilangan akan orang yang kita cintai...
hilang tawa ganti sendu...untuk jadi dua manusia yang jauh lebih teguh..

dari sana aku ingin memulai bersama kalian merajut makna itu
sebaik apapun keluarga mereka akan juga pergi
sebejat apapun musuh mereka toh juga akan 'kembali'
namun semua membawa makna bahwa tanpa mereka kita tidak akan se'belajar' hari ini

dengan ditipu kita menjadi waspada
dengan dicintai kita menghargai kata 'bersama'
dengan dicurangi kita mengenal kata 'setia'
dengan kehadiran sang ayah kita kenal pengorbanan dan suri tauladannya

lepas baik dan buruk tapi jiwa itu ada selalu disekitar kita
membuat kita tahu satu dua hal yang lebih berharga
dan itu jauh lebih baik daripada dunia kosong dan tak ada apa-apa.

mensyukuri itu baik, menyesal itu tak perlu...
karena semua ada dan terus begitu..berlalu...
begitukan hidup harus terus bejalan dalam liku?
yah..begitu...

orang tak harus besar tak harus juga kecil menciut
jiwa tak harus ada untuk benar atau salah bagi dirimu

Namun setiap jiwa ADA untuk dirimu.
dari musuh terjauhmu...
hingga seperti cinta dua putra pada ayah mereka yang sudah disisiMu
semua berharga..semua berarti
apalagi orang dekat dalam hati...

dan itu jauh lebih besar dari kebesaran orang besar
lebih berarti dari pengargaan penemuan abad ini...
menemukan bahwa tiap orang selalu ADA...
ada dan berarti untuk langkah hidup kita selanjutnya...



Puing Gulita


Sampailah sudah pada satu masa
Dimana nadir sudah lewat bahkan lelah
Ntah hitung nafas tak ubahnya
Namun smua harus dilalui adanya

Camping tetap harus berpeluh berganti jubah
Luka tetap harus berperih untuk sembuh dan berubah
Tak sedikitpun bergeser alasan ataupun arah

Hanya bolehkah ini hati ucap letih?
Walau tak zamannya lagi tertatih
Karena itu hanya menistai perubahan dengan kelambanan
Dan mengubur kian dalam kasih yg tak berkesudahan

Bila boleh meminta dalam Puing Gulita
Izinkan kenalkan duduk nyaman golgota jiwa
Karena ujung adalah ubah agar cerah
Bukan cuap-cuap kata tanpa arah

Selebihnya Kamu tahu wahai Yang Maha Tahu
Aku tulus apapun ada mereka
Aku telanjang atas kirmizi ini laku
Akupun tak sembunyi atas rasa pada utusanmu Ilahi

Kau yang punya kau yang beri
Hanya usaha dan terus menempa diri
Untuk lebih baik kata ucap
Semoga benar baik laku tak sekedar ngecap.

Karena ingin mereka lihat cercah hari senja,
Karena ingin kuhabiskan hidup bersamanya.

Mencintai


Seorang miliarder lanjut usia sekarat dalam usianya yang hampir 100 tahun. Dalam perjalanan hidupnya dia selalu memperoleh apa yang dia punya. Harta, Istri yang cantik, anak-anak yang pandai dan menurut, dan hidup yang menyenangkan. Ia puas benar dalam hidupnya, hingga ia kehilangan semuanya. Istrinya meninggal puluhan tahun yang lalu. Anak-anaknya berkelana dengan bisnis mereka keseluruh penjuru dunia tanpa pernah ingat pulang, dan hartanya kian lama kian habis karena kebutuhan dirinya dan anak-anaknya.

Hingga pada akhirnya, karena ketenarannya pada masa-masa akhir hidupnya, dia sempat diwawancara oleh sebuah koran lokal tempat dia tinggal, dan begini katanya...

Apa yang belum saya lakukan : menCINTAi

Anda boleh mengira saya punya segalanya, karena memang itu adanya. Namun saya lupa satu hal. 'mencintai'.

Dulu saya pikir ketika saya sukses maka akan lebih banyak kebahagiaan akan datang pada saya. Saya mengira dengan makin kaya istri dan anak-anak saya akan makin bahagia, namun saya salah. Istri saya meninggal lebih awal karena saya tidak sempat memberikan sedikit waktu untuknya. Saya hanya berharap dimengerti dengan kesibukan saya. Saya lebih menjadi saya yang 'take it or leave it', saya lupa saya tak pernah belajar memberi waktu, memberi pengertian tanpa harus dimengerti, itukah mencintai?

Ketika muda, saya merasa dunia bisa saya taklukan. Mimpi saya segudang untuk diberi jabatan, diberi kekuasaan. Semua akan memberikan segala apa yang saya inginkan. Pergi kerumah ibadah buat saya adalah buang-buang waktu. Sampai saya mulai tak bisa banyak bergerak karena kelumpuhan. Disana saya menemukan satuhal bahwa Tuhan mengajarkanku penantian tanpa akhir, kesetiaan. DIA tetap memberiku kesembuhan agar aku bisa berbahagia kembali. Semacam kesempatan kedua, padahal aku telah men'campakan'NYA dan melupakanNYA. Itukah Mencintai?

Dulu saya selalu berpikir memberi tanpa menerima adalah bodoh, namun ternyata saya salah. memberi yang HARUS menerima adalah pembodohan itu sendiri. Coba kutanya padamu, relakah kamu kehilangan separuh atau seluruh hartamu tanpa jelas? tidak bukan? Aku sempat tak bicara 30 Tahun dengan anak sulungku karena dia berbisnis dengan separuh uangku. dan ludes rugi Namun seorang petani kecil pengolah ladangku memberikan contoh padaku. Ketika anaknya ingin keperguruan tinggi, dia datang padaku dan berkata. "Tuan, bila berkenan bolehkah Tuan meminjamkan aku sekian besar uang, maka abdiku selamanya untuk Tuan" kupikir...apakah anak itu sampai ia begitu berharga? apakah anak itu pasti membalas kebaikan bapaknya? Tidak bukan...Jadi apakah mencintai itu ketulusan tanpa pamrih yang percaya? Kurasa orang yang bisa mencintai adalah orang yang sangat cerdas. Karena mencintai justru mempersiapkan kemungkinan terburuk dengan cara yang terbaik.


Yah..kalau aku boleh menyarankan untuk dunia. Berbahagialah kamu yang dicintai. Namun belajarlah mencintai. Karena dengan mencintai kamu bisa menghargai. Dengan menghargai kamu tahu bagaimana berlaku yang sebaik-baiknya secerdas-cerdasnya. Dan dengan berlaku sebaik-baiknya kamu tahu bagaimana rasanya gagal dan dibohongi. Dengan tahu rasanya gagal dan dibohongi kamu tahu dan mengaggumi kebangkitan dari kegagalan dan pengampunan sejati, dan dari kegagalan kamu belajar sejuta kemenangan serta dari pengampunan kamu belajar bersyukur diampuni olehNYA. Karena kemenangan dan pengampunan adalah pencapaian, dan pencapaian tertinggi adalah berkat dan pengampunan Tuhan bukan? dan Tuhan mencintai kita dengan memberikan kita kehidupan?

"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." - Yoh 3 : 16
(adakah awalan 'di' yang disampaikan? atau Tuhan selalu memakai 'me'? itu kenapa saya sekarang memilih jatuh dan mencintai saja.)

Biarlah itu berlalu



"Kawan...aku bingung...aku seakan mati rasa...mereka baik...namun aku tak berperasaan 'lebih' pada mereka" katanya.

"Kamu terlalu membandingkan mereka mungkin?" Tanyaku

"Tidak..mereka semua baik...tapi kau tahu, sikap manis bisa jadi pilu...dan aku sangat malas mengulang kondisi itu, aku ingin semuanya baik-baik saja..karena aku ingin menjadi yang terbaik juga." jawabnya...

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

(Memori : kembali ke beberapa Tahun yang lalu)

"Kenapa...kenapa akhirnya ini usai!?!?!" Tanyanya padaku sambil tak berhenti tissue mengusap wajahnya silih berganti...

"Sudahlah...semakin kamu cari jawabannya kamu akan semakin sesak....mungkin dia bukan yang terbaik untukmu..." Jawabku mencoba menenangkannya

"Tapi tidak begini! Harusnya kami bisa terus bersama...dia baik untukku! Kurasa tak ada yang salah..." Jawabnya mencoba mempertahankan semuanya ditengah isakannya yang belum mereda.

"Kamu yang menganggap dia baik. Dan kamu juga ingin jadi yang terbaik buat dirimu. Jadi...jadilah itu..kurasa Tuhan tidak mau kamu jadi cengeng begini...sudahlah...kamu masih punya banyak kesempatan.." Jawabku mencoba dan terus mencoba...

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

(Kembali ke sekarang)

"Hmhh...tidak bisa begitu lah..." Jawabku "kamu sedang menentukan dengan siapa kamu mau hidup..dan namanya hidup tidak mungkin growth terus..kamu 'jatuh' kemarin adalah kepastian kamu akan 'jatuh' lagi. Bedanya? Hanya kamu siap atau tidak kan?"

"apa yang bisa menjamin aku tak kecewa? Tak ada bukan?" Tanyanya

"Tak ada memang, karena yang merasa senang atau kecewa itu dirimu. Bukan siapapun yang kau pilih." Jawabku. "Kamu melihat mereka sekarang baik. Tapi bagaimana kamu tahu kalau mereka setia? Bagaimana kamu tahu kalau mereka bisa menerima dan diterima oleh mu apa adanya?? Dengan menjalaninya bukan??"

Ia mengangguk ragu...

" Kamu sudah dewasa..dan pernah mengalami pahitnya...kurasa kamu tahu sikap apa yg harusnya kau tidak ulangi dan kau timbulkan dalam sebuah relationship agar kau bisa terus berjalan selamanya..bukan kah itu lebih penting kamu pikirkan?" Tanyaku...

"Iya..tapi aku tak mau sakit lagi..karena itu memakan waktu dan pikiranku untuk 'sembuh'" balasnya

"Coba pikirkan...apakah dengan begini kamu 'sembuh'? Tidak kan? Kamu benar2 sembuh penuh bila kamu benar2 merasa dicintai kan? Namun dengar aku...kamu berhasil menjadi kekasih sejati bukan karena kamu berstatus pasangan yang sampai mati bersama..bukan!!! Kamu layak disebut kekasih dan layak memiliki kekasih kalau kamu Bahagia.itu yang utama. Kamu bs berbahagia dengan,atas, dan bahkan tanpa dirinya. Siapapun dia...
Kamu dan dia berhasil menemukan jembatan atas 'perbedaan' apapun yang kalian pernah punya tanpa meninggalkan luka,bukan berarti perjalanannya tanpa luka..." Tandasku..

Dan ia terdiam...

"Sebab jatuh cinta tetap 'Jatuh' dan 'mencinta'. Jatuh itu sakit atau tidaknya tergantung alasan rasa kita. Sakit karena kita masih merasa tidak adil, lebih baik karena kita punya tujuan lebih besar kenapa kita jatuh. Namun, cinta tetap kasih. Dan kamu takkan pernah tahu ujungnya.maka berilah yang terbaik..semoga yang terbaik bagimu yang kau dapatkan...biarlah semua berlalu..dan jangan ngotot dgn ekspektasimu..sebab yang terindah belum tentu yang terbaik..namun yang terbaik pasti membawa keindahan, walau melewati jurang perbedaan apapun.."

Terapi Syukur : BADUT (hidup dari senyuman)




"Aku tersenyum karena masih banyak yang lebih tidak punya daripadaku" - Agustina Kurniawati

Malam semakin larut. Baju besar gombrong itu berjalan seperti gorila dibalik remang-remang lampu jalan pinggiran kota. Kian dekat ia kian terlihat. Seseorang berpakaian badut gembul berpakaian warna warni. Warna-warni itu kuyup, karena diperjalanan dia kehujanan. Make-up khas wajah badut itupun luntur tak karuan, putih tersisa sedikit disimpul pipi, dan gincu merah sudah meleber ke dekat pangkal hidung dan dagu...

Hari itu mungkin bukan hari pak badut. Ia belum sampai karnaval malam ketika hujan sudah habis-habisan mengguyur pusat kota.

Ketika hujan datang, pak Badut merasa pedih setengah mati....ia membatin "jangan sekarang!!!kenapa aku harus kehujanan??kenapa??? Bisakah hujan menunggu kantongku penuh dulu?"

Tapi keteguhan dan kesendiriannya menoelnya untuk terus membadut..dengan kuyup dan berantakan dia sambil berjalan pulang mendatangi keramaian anak-anak di kompleks demi kompleks yang dilewatinya ditemani redanya hujan...mencoba menjugling bola tangan sampai sulap dengan tawa dan ekspresi bodoh badut, dengan tambahan wajah tolol kehujanannya...walau perih kecewa kesempatan bahagia dan banyak rejeki di karnaval tak bisa digapainya...ia tetap pamer senyum badutnya...

Hasilnya??? Yah..adalah...paling tidak untuk makan malam ini, dan simpanan besok serta beli pewarna muka...

Di gubuknya..ia sudah sampai...dia melepas kostum, lalu membersihkan rias wajahnya...dan terlihat wajah letih itu..tapi..kebiasaan menghiburnya..membuat dirinya terdidik untuk satu hal..tersenyum...walau itu senyum diatas airmata kesusahan...dan begitulah harinya hari ini..Pak Badut...


"Jiwa ini bebas mencintai apapun dan siapapun! Rasa ini bebas mengingi apapun. Yang baik adalah terus menghibur dan tersenyum lepas dicintai atau terkabul tidaknya ingin itu" - Christopher Reginald