Biarlah itu berlalu



"Kawan...aku bingung...aku seakan mati rasa...mereka baik...namun aku tak berperasaan 'lebih' pada mereka" katanya.

"Kamu terlalu membandingkan mereka mungkin?" Tanyaku

"Tidak..mereka semua baik...tapi kau tahu, sikap manis bisa jadi pilu...dan aku sangat malas mengulang kondisi itu, aku ingin semuanya baik-baik saja..karena aku ingin menjadi yang terbaik juga." jawabnya...

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

(Memori : kembali ke beberapa Tahun yang lalu)

"Kenapa...kenapa akhirnya ini usai!?!?!" Tanyanya padaku sambil tak berhenti tissue mengusap wajahnya silih berganti...

"Sudahlah...semakin kamu cari jawabannya kamu akan semakin sesak....mungkin dia bukan yang terbaik untukmu..." Jawabku mencoba menenangkannya

"Tapi tidak begini! Harusnya kami bisa terus bersama...dia baik untukku! Kurasa tak ada yang salah..." Jawabnya mencoba mempertahankan semuanya ditengah isakannya yang belum mereda.

"Kamu yang menganggap dia baik. Dan kamu juga ingin jadi yang terbaik buat dirimu. Jadi...jadilah itu..kurasa Tuhan tidak mau kamu jadi cengeng begini...sudahlah...kamu masih punya banyak kesempatan.." Jawabku mencoba dan terus mencoba...

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

(Kembali ke sekarang)

"Hmhh...tidak bisa begitu lah..." Jawabku "kamu sedang menentukan dengan siapa kamu mau hidup..dan namanya hidup tidak mungkin growth terus..kamu 'jatuh' kemarin adalah kepastian kamu akan 'jatuh' lagi. Bedanya? Hanya kamu siap atau tidak kan?"

"apa yang bisa menjamin aku tak kecewa? Tak ada bukan?" Tanyanya

"Tak ada memang, karena yang merasa senang atau kecewa itu dirimu. Bukan siapapun yang kau pilih." Jawabku. "Kamu melihat mereka sekarang baik. Tapi bagaimana kamu tahu kalau mereka setia? Bagaimana kamu tahu kalau mereka bisa menerima dan diterima oleh mu apa adanya?? Dengan menjalaninya bukan??"

Ia mengangguk ragu...

" Kamu sudah dewasa..dan pernah mengalami pahitnya...kurasa kamu tahu sikap apa yg harusnya kau tidak ulangi dan kau timbulkan dalam sebuah relationship agar kau bisa terus berjalan selamanya..bukan kah itu lebih penting kamu pikirkan?" Tanyaku...

"Iya..tapi aku tak mau sakit lagi..karena itu memakan waktu dan pikiranku untuk 'sembuh'" balasnya

"Coba pikirkan...apakah dengan begini kamu 'sembuh'? Tidak kan? Kamu benar2 sembuh penuh bila kamu benar2 merasa dicintai kan? Namun dengar aku...kamu berhasil menjadi kekasih sejati bukan karena kamu berstatus pasangan yang sampai mati bersama..bukan!!! Kamu layak disebut kekasih dan layak memiliki kekasih kalau kamu Bahagia.itu yang utama. Kamu bs berbahagia dengan,atas, dan bahkan tanpa dirinya. Siapapun dia...
Kamu dan dia berhasil menemukan jembatan atas 'perbedaan' apapun yang kalian pernah punya tanpa meninggalkan luka,bukan berarti perjalanannya tanpa luka..." Tandasku..

Dan ia terdiam...

"Sebab jatuh cinta tetap 'Jatuh' dan 'mencinta'. Jatuh itu sakit atau tidaknya tergantung alasan rasa kita. Sakit karena kita masih merasa tidak adil, lebih baik karena kita punya tujuan lebih besar kenapa kita jatuh. Namun, cinta tetap kasih. Dan kamu takkan pernah tahu ujungnya.maka berilah yang terbaik..semoga yang terbaik bagimu yang kau dapatkan...biarlah semua berlalu..dan jangan ngotot dgn ekspektasimu..sebab yang terindah belum tentu yang terbaik..namun yang terbaik pasti membawa keindahan, walau melewati jurang perbedaan apapun.."