Kota Tua 1 - Pecinaan (dari balik Infra Red Camera)

Akhirnya saya sempat lagi berbagi dengan dunia. Sebulan tidak berbagi, saya ingin berbagi dengan cara yang sedikit baru mungkin. Tidak dengan frasa tapi dengan makna. Yah, makna dari gambar, makna dari hasil jepretan saya.
Mungkin sebelum saya menampilkan hasil jepretan saya, saya mau berterima kasih pada sahabat blog exalandra (http://exalandra.blogspot.com) buat inspirasi mencemplungkan gambar-gambar menarik di gudang inspirasi ini.

Photo-photo ini saya ambil beberapa waktu lalu. Bersama perjalanan dengan teman-teman Liga Fotografi FEUI. tak ada tema khusus dari photo-photo ini. Lokasinya disekitaran kota tua sampai keujung pelabuhan sunda kelapa. Sangat tidak istimewa mungkin, namun toh saya hanya ingin berbagi hasil memori yang bisa dinikmati oleh lebih dari sepasang mata saya. kalaupun dibilang berbeda, karena gambar-gambar ini saya ambil dengan Infra red kamera itu saja..

Sesi 1 : Pecinaan

Sampai di Pecinaan, saya coba mengambil gambar salah satu Vihara kesohor disana. biasanya atau setidaknya saya tahu nama Vihara itu bernama Toa Se Bio (maafkan bila saya salah menulis atau pengejaannya). Cuaca yang terik rupanya membawa berkah tersendiri dengan menghasilkan rona awan yang menarik. Yah, kata orang selalu ada tradeoff dari satu kondisi ekstrim bukan?
Toa Se Bio Gate

Yah..masuk lebih dalam, saya tertarik mengabadikan 'si penjaga' Vihara. Bukan..penjaga itu bukan seperti penjaga istana negara yang merupakan manusia. Penjaga Vihara atau bangunan etnis Cina biasanya berupa naga atau singa yang sering disebut liong atau kylin (lagi-lagi maafkan kalau penyebutan dan pengejaannya salah).

Guardian Dragon

Saya mengambil gambar patung ini, karena walaupun bentuknya cuma patung, ntah mengapa patung ini begitu mempunyai daya tarik apa lagi buat pemilik bangunannya. Bahwa patung ini memang merupakan 'penjaga' ampuh buat para penghuninya lepas dari percaya tentang efeknya atau tidak ada hikmah penting yang dibawa dari keberadaan patung ini buat kita semua, yaitu bahwa suatu berkat dan pemberian itu harus selalu dijaga. Karena rasa syukur yang paling berharga kata bapak saya adalah memelihara (dan saya setuju soal itu)

Sebelum saya sampai ke pintu masuk, saya tertarik lagi soal bagaimana bentuk atap dari rata-rata bangunan pecinaan terpampang di hadapan saya. atap berkepala naga dan bunga teratai di atap berpucuk satu. Saya sih ndak tahu kenapa atap harus berbentuk begini..ini murni cuma kekaguman kok. tidak ada pengetahuan ala ahli budaya dalam photo ini.Cuma sekedar berpikir "kenapa ya mereka repot-repot mengukir sebegitu cantik atap berbentuk teratai dan kepala naga?"
Toa Se Bio

Karena saat itu hari makin siang, yah mungkin yang terakhir soal bangunan-bangunan pecinaan. ada dua hasil jepretan setelah ini, namun ini yang saya paling kagum pada bangunan hasil tangan mereka (siapapun mereka di pecinaan atau mereka yang mempunyai visi sama dalam hal ini). Coba perhatikan dua gambar ini :

Papan Nama Hian Tan Keng
keduanya saya ambil di vihara itu namun katakanlah di dua bangunan berbeda. kesamaannya, yah keduanya adalah pintu gerbang. pintu masuk! namun bukan kesamaan itu yang mungkin mengelitik saya melainkan kenapa ada papan nama besar disana? Narsis amat pikir saya.
Namun saya teringat film-filmnya Wong Fei Hung (heheheheh) disana saya melihat ada kebanggaan dan rasa syukur atas papan nama itu. Papan nama buat mereka adalah satu kebanggaan dan harga diri sebagai ujud syukur bahwa dari kebesaran yang maha kuasa itu (dalam ujud nama dan katakanlah dalam bahasa masa kini brand) mereka memperoleh suatu nilai tambah sehingga mereka pertahankan benar kebesaran papan nama itu. Bahkan di papan nama sebelah kanan, mereka sampai tulis bahasa Indonesianya (ejaannya) supaya orang tidak salah sebut.

Yah..yah...
Mungkin omong kosong bersama photo-photo saya tak penting,yah maklum dari jepretan seadanya dari pecinaan di daerah Glodok Kota, namun kalau saya boleh mengambil pesan. sesuatu yang unik dan besar itu tidak datang dengan sendirinya begitu saja. Dia datang dari rasa syukur dan pengabdian yang besar. Mungkin begitu ya?

Dari jepretan-jepretan di pecinaan kota tua, teriring salam dari saya.

1 comment:

Siapapun jiwa yang berucap, baiknya aku mengenalmu, dan kamu akan lebih pahami aku adanya