Terapi Syukur : Bukan Keledai




“Kalau kita bisa merawat dan menghargai apa yang diberikanNya. Kesempatan itu akan datang lebih besar buat kita !” – Theo Tirtawidjaja

MENUJU SEMUA YANG LEBIH BAIK (sebuah otobiografi anak mantan tukang bengkel)
(hanya sebuah kutipan biasa)

Disalah satu halaman buku itu…(kenangan si penulis…)

“nak, Uang SPPmu besok dulu yah ?” kata bapak. “Tapi pak ? hmm…baiklah pak, tidak apa-apa, saya nanti coba minta bayaran uang les-lesan lebih cepat” jawabku

Lalu, bapakku duduk disebelahku waktu itu. Dengan wajahnya yang keras namun berusaha lembut dia berkata padaku “Nak, sabar ya, tapi kamu tak usah nagih pada muridmu. bapak masih ada kerjaan yang bisa diselesaikan. Insya Allah besok sudah selesai dan dibayar”. Saya jujur sedih mendengar jawaban itu. Saya kadang memang tak suka cara bapakku yang blak-blakan menyampaikan semuanya. Saya istilahnya merasa harus mencelos berkali-kali untuk merasakan kasih sayang bapakku. Bukan dari pelukan atau kecupan seperti di acara-acara televisi yang biasa kutonton di tempat pak RT dulu. Mungkin karena Bapakku laki-laki yang keras, dan yang jelas dia sangat tegar. Semenjak ibuku mati tak lama setelah melahirkan adikku. Bapaklah yang merawatku. Ibuku pergi kata pakdeku kena penyakit yang tak terdeteksi, tapi setelah kupelajari lebih dalam di kuliahku kini. Saya mencium bau malpraktik atau salah penanganan di kasus ibuku.

Kalau ditelusuri ke masa lalu, Bapakku lulusan SMA, dia tidak kuliah karena dia lebih suka berdagang dan ikut-ikutan buka bengkel motor bersama teman-temannya. Teringat kata pakdeku, “Ayahmu itu sebenarnya kalau usaha bisa jadi insinyur beneran, ga usah jadi montir, Cuma waktu itu dia lebih pilih senang-senang daripada ikut bimbingan tes kampus negeri. Kalau kampus swasta kan mahal” .

Ayah terlihat sangat membawa penyesalan ketika tidak bisa membiayai perawatan ibu dengan optimal. Mungkin jadi akibatnya (ketika itu saya SMA), dia sampai jual motor kami satu-satunya untuk saya bisa ikut Ebtanas (Ujian akhir nasional), Dan bisa ikut bimbingan tes untuk Perguruan tinggi negeri. Walaupun kalau ingat saat itu, tak ingin rasanya saya kembali ke masa itu. Ketika lulus sekolah, saya sama sekali tak sempat mengenyam libur panjang anak berseragam putih abu-abu pada umumnya. Saya ‘dipaksa’ untuk ikut semua bimbingan tes. Semua bimbingan tes yang saat itu sangat menyebalkan dan menguras dalam-dalam kantong bapakku. Heran saya…sungguh…walau kini saya tahu apa maksud bapak. Keras..itu sama dengan disiplin yang tulus buatnya

Keluarga kami yang bertiga ini adalah keluarga tambal sulam padahal. Paling tidak begitulah secara financial. Saya dan adik mencoba menghidupi uang jajan dan transport kami dari memberi les pada anak-anak yang usianya di bawah kami. Mungkin disini Tuhan begitu adil. Kami diberi pengetahuan dan kepandaian yang lebih sehingga tidak lebih menyusahkan bapak terlalu banyak lagi. Tapi tetap saja. Bengkel bapak ya seadanya menerima pelanggan. Bapak juga pernah berdagang. Kadang berhasil kadang sampai rugi ditipu orang. Semua sudah puas kami jalani.


Lalu kubalik halaman lainnya….(pengakuan yang jujur…)

Kalau ingat kata Bapak “kamu jangan seperti bapak, kamu ga boleh malas-malas. Bapak cerita sama kamu soal buruknya bapak waktu muda supaya kamu tidak usah mengulang apa yang buruk dari bapak.Kamu harus bisa tahu mana yang baik bukan mana yang enak untuk sekarang saja, enak itu jelas instant tapi orang-orang besar itu adalah orang yang tahu kapan harus merasa enak disaat semua juga enak, bukan disaat semua sedang berkeringat” saya selalu ingin bersemangat atau paling tidak ada keinginan kesana. Yah tapi namanya anak yang tentunya sedang bertumbuh, saya jelas punya rasa iri pada teman-teman yang punya banyak waktu dan kesempatan untuk bersenang-senang atau mendapat fasilitas lebih.Orang-orang kaya gedong yang aku rasa takkan bisa memasang rantai sepedanya sendiri. Namun ntah kenapa waktu itu tololnya saya. Saya ikut-ikutan mereka hura-hura tanpa ngaca saya ini orang biasa. Hal yang kemudian berbuah penyesalan. Karena rupanya sejauh-sajauhnya sebuah kebahagiaan, yang abadi itu adalah kebahagiaan yang bukan habis ditelan malam, tapi kebahagiaan yang membahagiakan banyak orang. Terutama orang yang kita sayangi.

Ceritanya, dulu saya sempat sering membolos. Alasannya jelas BERSENANG – SENANG .IP Semesterku sempat hampir mendekati nol, hanya lebih beberapa poin dari nol. Dari tujuh mata kuliah yang tidak mendapat F hanya satu. Itupun karena ujiannya take home sehingga proses copy-paste akan lebih mudah kupraktikan.

Saya sering ikut teman-teman main musik sampai pagi. Atau sekedar jalan ngalor ngidul ke tempat-tempat nongkrong yang umum. Hingga akhirnya saya dipanggil oleh Bidang akademik.

“Anda bisa dikeluarkan bila terus begini” kata Professor Jono kenangku waktu itu. “Lalu apa yang bisa saya buat Prof ? bagaimana saya bisa mengangkat IPK saya jadi diatas 2 ? semester ini IP saya 0,7. Jadi kumulatifnya 1.3 Prof. Padahal IPK sebelumnya 2.8” jawabku waktu itu. “Intinya kamu mau atau tidak ? saya bukan orang kurang kerjaan yang mau mengurusi kamu saja. Saya mau tahu urusan kamu karena saya dulu yang melihat ayahmu tidak bisa membayar operasi ke Malaysia itu.”

Kalau ingat jawaban saya saat itu. Saya merasa bukan manusia. Saya merasa lebih lemah dari pesakitan. Saya seperti keledai yang seenaknya berbunyi. “Kalau kata bapak..orang yang tak punya semangat juang, mending berhenti saja !”

Jawaban Professor Jono waktu itu juga tidak akan pernah saya lupa. Ceritanya dulu memang dia yang menyarankan tidak untuk dirawat di negeri ini. Terlalu riskan. Dia juga satu-satunya dokter yang malah menanggung biaya periksa ibuku. Dan mungkin ucapannya itu dan kesadaran betapa bodoh dan lemahnya saya waktu itu yang membuat saya beranjak dari kebiasaan malas itu. Tidak ada alasan lainnya yang kuingat, toh sudah cukup dramatis kan ??

Saya baru sadar belakangan. Kadang dalam keadaan sangat ekstrim manusia akan menemukan titik baliknya secara umum. Namun seperti halnya grafik. Kenaikan itu tak pernah konstan. Selalu mengalami koreksi teknis. Begitu juga hidupku.

Yah lumayanlah, dari 1,3 saya selamat ke angka 2,04. dan lulus dengan angka 3,29. bukan angka yang sempurna, tapi paling tidak saya terus belajar jadi asisten Prof Jono. Dan itu ilmu ekstra buatku.


(ternyata juga ada) Halaman tentang kasih sayang

Mungkin ini cerita yang sebenarnya terlalu gombal diceritakan. Apalagi kalau melihat latar belakang saya yang tumbuh dengan hanya seorang ayah jelas menganggap hal ini cukup picisan untuk dibicarakan. ‘Bukan untuk dibicarakan pada umum’ kata bapak dulu, ketika saya bertanya soal ibu.

Kehidupanku di kampus tergolong riuh masa itu. Saya lebih terkenal sebagai seorang atlet kampus dibanding seorang calon dokter. Kalau jam 8 sampai jam 3 sore saya di kelas atau di lab (yang berarti 5 jam bersih dipotong istirahat siang) saya bisa menghabiskan jam yang sama di lapangan. Mungkin hal ini juga yang akhirnya membuatku jadi asisten yang pernah ber IP 1.3

Yah..ketika ditegur oleh Prof Jono yang saya ceritakan dibagian sebelumnya, rupanya saya memang berubah. Ntah karena dipaksa keadaan atau memang diriku niat berubah. Hanya Tuhan yang tahu saat itu, yah…Paling tidak saya jadi mengurangi aktifitas ototku dan lebih mengejar aktifitas otakku. Yah dari lapangan ke perpustakaan kata orang. Dan rupanya kadang kehidupan memberikan motivasi tidak dengan kesan sengaja. ‘ketidaksengajaan’ yang paling berharga buatku adalah seorang yang ‘diutus’ Prof Jono untuk mengawasi saya belajar dengan tugas-tugas tambahan sang professor. Cicilia. Yah pengawas galak yang disertakan sang professor itu rupanya membuat saya berpikir bahwa itu adalah sebuah perhatian buat orang yang kurang perhatian.

Kadang saya malu kalau melihat masa-masa itu. Bayangkan kalau orang yang katanya pemimpin negeri abad ini, adalah orang yang suka membohongi orang yang dengan rela mencoba membuat jadwal belajar yang disiplin buatku. Dari 10 janji, sudah syukur kalau ada 1 yang saya tepati di bulan-bulan awal. Sampai dia ‘mengunciku’ ketika dia datang ke bengkel Bapak untuk mencariku, dengan alasan ‘Saya minta di ajari mata ajar tertentu’. Yah…apa yang bisa saya buat waktu itu….Dan dari sana rupanya kekagumanku padanya muncul, kepada semangatnya untuk mendorongku berusaha dengan tulus. Padahal saya mungkin adalah calon dokter paling tidak higienis saat itu. Yah..namun begitulah…hingga akhirnya dia menjadi nyonyaku 12 tahun sejak semester itu…11,5 tahun semenjak bapakku yang keras bilang “dia bapak rasa cocok jadi pendampingmu nak nanti”

Yah..pengalaman satu ini adalah bagian extraordinary dari hidupku. Namun sangatlah kubanggakan. Yah, kebanggaan terhadap sebuah rasa…Kebanggaan terhadap sebuah kebetulan..dari sebuah kejatuhan dan kesalahan ada hikmah kadang-kadang. ‘Kadang-kadang’ bukan seterusnya… haha….


Bagian keseimbangan (kejatuhan itu bagian dari kebangkitan)

Saya banyak melihat keterpurukan dalam hidup saya. Saya melihat bagaimana Ibu saya mati karena tidak terawat dengan baik. Saya melihat bagaimana Bapak saya jatuh bangun berusaha agar keluarga saya tetap bertahan dan menjadi lebih baik, walau hidupnya tanpa keseimbangan ibu. Namun rupanya saya masih belum juga bisa bernafas lega saat itu saya pikir….saya masih harus jatuh bangun lagi….Saya malah merasakan kejatuhan disaat saya sudah di ujung perjuangan untuk jadi seorang sarjana.

Ingat benar saya. Waktu sedang mengambil izin praktek. Bapak dituduh mengoplos oli. Dan bengkel dituduh jadi gudangnya. Padahal saya yakin benar, untuk berkata onderdil kelas dua sebagai onderdil asli saja bapak tak pernah. Prinsipnya kalau kamu bisa jujur pada hal kecil, Tuhan akan lebih bukakan hal-hal besar untukmu.
Saya sampai pulang ke Jakarta dari tempat kerja praktek di salatiga waktu itu. Kami habis-habisan waktu itu. Harus bayar pengacara, harus minta tetangga dan segala macam bersaksi. Hingga akhirnya aku sadar satu hal. Bahwa hal paling sulit di dunia adalah konsisten berbuat jujur.Yah Cuma itulah ‘harta’ bapakku. Jujur. Karena jujur berarti tidak melakukan kesalahan dua kali. Dan akhirnya Bapak bebas dari segala tuduhan memang. Cuma kami tak bisa menstock barang lagi karena uang habis. Upah pertama saya jadi dokter jagapun habis buat perbaiki bengkel.

Kalau dipikir-pikir saya ini bukan orang yang cerdas. Saya juga terbukti bukan orang yang giat. Apalagi kalau berkaca pada masa itu.

Saya ini hanya orang yang beruntung. Saya orang yang beruntung diberi kesempatan untuk menyadari segala sesuatunya sebagai sesuatu yang kurang tepat. Mungkin dalam bahasa Bapak saya Kamu harus bisa tahu mana yang baik bukan mana yang enak untuk sekarang saja. Dan saya menemukan esensinya.

Saya tidak memperoleh sesuatu dengan instan. Maka itu saya sangat concern dengan bagaimana mempermudah perbaikan di segala sesuatu yang saya jalani. Satu hal yang saya pelajari, bahwa sebanyak apapun kejatuhan tidak akan mengakibatkan kenaikan yang instan. Secara teknis, orang tidak akan jadi kuat setelah dia sakit. Dunia hanya memampukan orang itu untuk kembali sehat bukan jadi kuat. Kekuatan timbul karena kesadaran untuk menghindari penyakit-penyakit yang pernah terjadi. Penghindaran berupa sikap-sikap dan cara hidup yang lebih positif. Layaknya berolah raga mungkin. Kelelahan adalah dampak instant yang kurasa, namun setelah itu saya bisa bernapas lebih tenang dibawah tekanan yang melelahkan. Kalau kata bapakku ini soal kebiasaan, bagaimana kamu membiasakan diri. Yah, itulah. Menjadi biasa bangkit itu berharga mahal, bahkan sangat mahal ! dan saya kagum sama bapak dalam hal itu, Karena dia selalu bilang Tuhan selalu punya rencana untuk itu. Dan saya melihat itu sebagai titik tolak kebangkitan. Percaya dengan kebangkitan, PERCAYA ! bahwa kebangkitan itu ada !

Yang seimbang itu ternyata bagaimana kita tidak pernah berhenti bersemangat. Kata sahabat saya, Apa yang harus dipikirkan sekarang dan nanti itu ada porsinya, jangan sampai membuat kita berhenti bersemangat itu yang utama. Soal yang instant itu hanyalah mempercepat perbaikan bukan memastikannya. Layaknya manfaat suplemen bagi kehidupan manusia. Penemuan cerdas itu hanya membantu untuk tidak memperparah Namun perbaikannya tetap kembali pada tubuh, jiwa dan ragamu.


Halaman tentang aksi politiknya (Inikah politikus dengan nurani negeri ini ?)

Saya sebenarnya tak suka menulis ini. Tapi kata, editorku ini bisa laku. Jadi yah, baiklah. Tujuanku kan disini menulis buku. Saya tak suka menulis ini karena saya menjalani ini pakai hati. Saya tidak suka bilang tidak suka, begitu juga sebaliknya. Saya tidak suka menyebutnya masuk partai atau masuk organisasi. Saya hanya melihat ini suatu kerjasama yang unik. Kerjasama terus menerus. Yang tak boleh sekalipun menjatuhkan. Kenapa ? seperti halnya orang menikah, harusnya harmonisasi hubungan social di Negara ini.
Saya tak suka kalau harus melihat data. Kenapa ? data itu suka bohong. Diagnosa statistic membuat banyak kita menyepelekan hal-hal detil. Itu kenapa saya masuk ke dunia perpolitikan mungkin. Aksi nyata yang ingin kubangun. Membangun kepastian kata pendahuluk.

Saya tak suka kompromi, Yang harus itu, orang ya harus makan, orang makin kuat untuk tidak miskin. Tidak miskin berarti pasti dapat hidup sampai punya cucu sehat dan berkarya, kecuali dia sudah diculik dulu oleh malaikat. Bukan karena kurang makan, kurang obat, kurang bersih, semuanya kurang. Itu berarti yang mengurus tidak serius. Dan saya akan merasa gagal dan mundur kalau saya tak bisa hold atau buat kenaikan dari jumlah yang ‘cukup’ itu. Atau Kurangi yang ‘kurang’

Saya merasa pernah banyak dapat kesempatan baik. Tapi sayangnya baik untuk diri sendiri. Kata sebuah buku, sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang berharga bagi sesamanya. Dan itu yan membuatku mencari yang adil, bukan semata baik. Dan darisana saya melihat satu hal. Bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah jatuh kedalam kesalahan yang sama. Punya sejuta cara untuk menjaga senyuman dan rasa syukur dalam perjuangan hidup manusia di dalamnya.


Sebuah kesimpulan (tidak jatuh berarti terus maju kedepan !)

Kalau saya harus menyimpulkan sebuah perjalanan hidupku. Mungkin saya harus bilang begini. Hiduplah seperti burung di udara. Melihat ke atas untuk menjaga semangatmu agar tetap hidup dan bertumbuh. Lihatlah kebawah untuk bersyukur bahwa kamu terbang setinggi ini. Karena dari ketinggian ini kamu bisa melihat betapa beruntungnya kamu.

Ketika kamu terbang rendah karena sayapmu hampir patah, yakinilah bahwa sebelum kepak sayapmu mati, bahkan ketika kamu sudah didasar kekecewaaan kamu masih bisa terbang lebih tinggi lagi. Karena Tuhan berhenti memberi kesempatan ketika kamu mati.

Kesulitan, kesusahan, kesedihan itu soal ekspektasi. Soal bagaimana mimpi tidak jadi nyata itu bukan intinya. Kamu jelas boleh berekspektasi tapi jangan biarkan ekspektasimu malah membunuh semangatmu. Jangan terbalik-balik.Jangan pernah menyalahkan keadaan. Jangan pernah salahkan posisi kamu dilahirkan. Kamu punya mereka untuk membangun kamu. Kamu jatuh lalu pada siapa kamu kembali ? kalau bukan pada mereka.

Ayahku boleh Cuma tukang bengkel. Tapi dia tahu benar bagaimana harus menghaluskan hati sedalam-dalamnya untuk mencintai anak-anaknya. Dibalik kekerasannya, dia menagajarkanku satuhal. Filosofi tujuan. Jangan biarkan kejatuhan mengubah ekspektasimu. Biarkan kejatuhan itu mengevaluasimu dengan otomatis.

Ibuku mungkin tak lama dalam hidupku. Namun dia membuatku tahu harus terus bagaimana adanya hidup. Jujur, tulus, dan terus maju. Karena saya tak mau makin banyak anak seperti saya yang merindukan ibunya.

Dan hidup ini membawakan satu pesar. Kalau kejatuhan itu biasa. Yang tidak biasa dan bodoh adalah jatuh lalu menangis tanpa henti. Karena anak kecilpun berhenti menangis dan maju lagi, paling tidak untuk pulang kerumah pada bapak dan ibunya. Begitulah kehidupan. Bukan masalah jatuh. Tapi terus maju kedepan. Kalaupun ada pengulangan itu hanya untuk menguatkan nalurimu. Bukan mematahkan semangat karena ekspektasi itu.


Presiden Republik Indonesia, 2xxx

1 comment:

Siapapun jiwa yang berucap, baiknya aku mengenalmu, dan kamu akan lebih pahami aku adanya