talenan emas & fighting spirit

“bagaimana kita keluar dari lingkaran kebiasaan itu” – Daan Gautama Tirtawidjaja

(sebuah catatan manusia yang pernah salah dan ingin memperbaikinya)

Lagi-lagi soal ‘masalah’. Apa pendapat mu soal hadirnya ‘masalah’ Ada sebagian pendapat kalau dunia tanpa ‘masalah’ seperti masakan tanpa garam. Namun di era full of depression seperti ini, rupanya orang lebih menganggap dunia selalu ‘cari masalah’. Pertanyaannya? Apa sebenarnya dunia atau diri ini yang ‘cari masalah’?

Kalau direnungkan lebih jauh. Dunia ini hanya reaksi dari sebuah aksi. Yang mampu membuat aksi adalah jiwa. Jiwa yang mampu memberikan stimulus terhadap ruang yang ada dalam kehidupannya. Setuju tidak? Jadi darimana masalah itu datang? Bagaimana masalah itu bisa menjadi kian complicated kalau begitu? Jawablah saja sendiri mungkin dengan kejujuran hati.

Yah mungkin memang ‘masalah’ itu datang dariku, tapi bagaimana untuk menyelesaikannya?

Jujur..jujur…dan jujur….

Untuk keluar dari masalah (apa lagi yang sudah membusuk) tak ada awalan lain selain kejujuran itu sendiri. Kejujuran bahwa ada aksi kita meski secuil, yang mendatangkan masalah itu (bahkan kelahiran raga kitapun atau sekedar kedipan mata sekalipun bisa jadi masalah.)

Tak ada apresiasi yang lebih tinggi dari sebuah kemenangan terbesar selain pengakuan salah dan kalah yang jujur..

Namun…ketika berusaha jujur…sadarkah kamu bahwa kamu melawan si ego di dalam raga ini? Pertempuran yang sangat sengit di ketinggian yang membuat atmosfir toleransi jiwa menjadi sangat tipis.. tipisnya atmosfir membuat kamu mudah sesak terhadap sedikit gesekan saja terhadap lawan mainmu dalam permainan bernama ‘masalah’ ini.

Kurasa itu wajar dalam batasnya. Ketika setiap jiwa MENCOBA menjalankan sesuatu yang baru, apalagi dengan embel-embel ‘sedikit pengorbanan’ kita akan langsung dihadapkan dengan pertanyaan mengenai ketulusan dan niat untuk merubah. Kadang bentuk reaksi yang mengesalkan untuk pembuktian ketulusan yang membuat kita kian sesak. Padahal sebenarnya reaksi itu biasa saja. Kita yang sedang tidak biasa. Kita yang sedang merubah kebiasaan itu. Bukan dunia yang ‘lebih’ dama beraksi. BUKAN ! ini soal persepsi

Jadi yang harus kita lakukan untuk memulainya adalah selayak talenan emas. Emas itu jujur. Dia bersinar karena dia memang emas. Sekusam-kusamnya, emas tetap emas ditempa seperti apapun kemurnian yang akan dicapainya. Namun filosofi ‘talenan’ dibawakan kemari. Talenan itu tetap berguna sebagai alas potong. Agar prinsip paling dasar tak rusak. Agar sayatan-sayatan yang tidak mengenakan itu kini menjadi biasa saja Karen menyadari fungsi dan tujuannya. Menjadi talenan itu tujuannya. Tetap murni, hingga masakan itu selesai dan bisa disantap dari kuali kehidupan menjadi satu hikmat yang lezat. Begitu bukan?

Bukan satu hal yang mudah, namun kesempatan itu ada bukan?

Dengungan perihnya hidup sering sekali memaksa membuat kita terpukul bukan? Dan kita sepakat itu bukan karena dunia, itu karena cara kita menjalaninya. Kalau sekali atau sepuluh kali masih tidak apa-apa. Tapi kadang jumlahnya melewati angka yang ada. Lalu bagaimana?

Disini aku merasakan pentingnya fighting spirit. Fighting spirit sejati itu rupanya tak mengenal nominal sebagai suatu asumsi. Semangat itu hanya punya tujuan. Tidak punya Plan B bahkan. Fighting spirit itu ketidak pedulian yang teliti. Dia tidak perduli seberapa besar dia sudah kalah. Seberapa lebam kehidupannya. Yang dia tahu adalah bagaimana mencari agar dia tidak begitu dengan detail dan teliti. Bukan satu atau jutaan kali itu terjadi. Sama sekali bukan.

Kenapa demikian? Aku dan kamu pasti lelah bukan akan keadaan? Yah..memang iya..keadaan itu memang melelahkan…tapi ingatlah lagi bahwa itu reaksi kita bukan kehendak dunia apa lagi diriNYA.

Aku menyadari hal itu. Mengapa? Karena coba lihat kaki dan tangan serta jiwamu utuh. Kamu masih ada dan bernapas disini. Bukankah itu rahasia suatu kesempatan?? Bukankah itulah kesempatan itu sendiri?

Atau ada hal lain?

Kenapa harus menangisi sebuah anugerah kehidupan? Kamu boleh lelah tapi tidak kalah !

Kenapa harus menyesali sebuah tindakan tanpa perbaikan ? kamu tak mungkin tak salah tapi bagaimana kamu merubahnya menjadi berkah

Kenapa kamu harus meminta kesempatan kedua atau kesekian pada Tuhan ? padahal setiap hela napas itu adalah kesempatan !

Rahasianya ada pada jiwa. Dengan sedikit kemauan, usaha, dan penantian…

Rupanya demikian….

1 comment:

  1. Wiwing,

    kesalahan....
    mungkin seorang "manusia bebal", hanya bisa belajar setelah dia merasakan "sakitnya kesalahan"....

    setelah dia merasakan sendiri akibat dari semua tindakannya...

    orang bilang itu "karma"...

    tapi bagi "sang manusia bebal"...
    "sakit" yang sekarang ini akan dijadikan pelajaran....

    bukan berupa tangisan...
    bukan pula kelelahan...
    tapi, pengertian....

    pengertian yang lebih dalam tentang kehidupan...
    pengertian bahwa, Sang Pemilik Kehidupan memiliki cara yang paling sempurna untuk "Menempa emas" di dalam jiwa seorang manusia....
    mengikis semua kotoran yang ada..
    untuk selanjutnya, emas itu akan berkilau....
    kilau yang asli....
    tanpa polesan....

    begitulah kawan....

    ReplyDelete

Siapapun jiwa yang berucap, baiknya aku mengenalmu, dan kamu akan lebih pahami aku adanya