Terapi Syukur : Lakukan !

"Iman tanpa perbuatan, hakikatnya adalah mati !"

"Apa bedanya orang-orang besar yang tercatat dalam sejarah, dengan manusia pada umumnya Bapa ?" Tanya seorang anak pada Bapaknya.

Jawab sang bapak. "Kenapa kamu bertanya demikian ? kurasa mereka adalah manusia-manusia beruntung yang memperoleh kesempatan lebih banyak dari kita ini"

Lalu si anak menjawab bapanya, "Kalau Bapa menjawab demikian, bagaimana dengan keadilan di muka bumi ini ? bukankah orang-orang besar itu bagian dari sebuah sistem keadilan universal ?"

Bapa itupun terdiam, dia menerawang seakan mencari jawaban bijak untuk keingin-tahuan anaknya, lalu ia berkata "Keadilan tetaplah keadilan anakku. Aku tak menyalahkanmu kamu berpikir demikian, namun hendaknya kamu mencoba memberi kesempatan sisi lain di pikiranmu masuk dan menjelaskannya. Karena keadilan bukan seperti apa yang kamu lihat, namun apa yang kamu buat"

Si anak mengernyitkan dahinya sambil bertanya, "Sejujurnya, aku tak mengerti maksud bapa. Yang aku pahami mungkin sedikit, namun apakah orang-orang tercipta sama di mata Pencipta, lalu kenapa Bapa menganggap orang-orang besar itu beruntung ?Apakah keberuntungan adalah segalanya ?"

Sang Bapapun akhirnya masuk kedalam rumah, mengambil remah-remah roti di atas piring yang sudah kosong dan keluar lagi. Ia mengajak si anak kesebuah danau jernih yang luas di kaki bukit tak jauh dari kediaman mereka. Disana ia menebarkan remah itu kepinggiran danau itu. Tak lama beberapa ekor ikan datang lalu menghabiskan remah-remah itu, lalu ikan-ikan itu kembali ke tengah danau. Lalu ia berkata "Anakku, itulah keadilan yang kumaksudkan. Ikan-ikan yang kebetulan sedang berada di pinggiran itu adalah contoh keberuntungan itu. Mereka diberi oleh Penciptanya untuk memperoleh lebih banyak mungkin dari yang lainnya pada hari ini. Namun apakah ikan yang ditengah sana mati kelaparan ? tidak bukan ? sama seperti aku dan kamu hidup cukup walaupun tidak sampai bergelimang harta"

Lalu dengan wajah memerah sang anak bertanya lagi "Namun kenapa kalau begitu mereka jadi pembesar, seperti ikan-ikan itu ada ditepian sebegitu beruntungnyakah mereka?"

Jawab sang ayah sambil mengajak anaknya pulang ke arah matahari yang mulai terbenam "
Tidak anakku sayang. Kebesaran ataupun kekenyangan adalah anugerah. Namun ikan itupun mungkin berasal dari tengah. Mereka mungkin sedang melihat kepinggiran saat aku memberi makan. melihat adalahh proses anugerah. Manusia lebih menyukai menyebutnya kesempatan, dan selebihnya adalah usaha mereka bukan ? Mungkin mereka harus melawan arus, seperti manusia harus memutar otak dan memeras keringat ? dan Manusia lebih sering menamainya niat dan usaha
"


Lalu si anak menjawab pada bapanya sambil tersenyum
"Berarti, bila aku mendoakan, berharap, dan merasa ingin terhadap sesuatu yang baik itu adalah kesempatan ? dan aku harus melawan yang pahit dan maju terus adanya adalah sebuah perbuatan yang bapa katakan? Bahkan ketika kekalahan yang hampir matipun, tetap ada kesempatan untuk kembali menang ?

Sang bapapun menjawab sambil merangkul anaknya "Apapun yang kamu pikirkan, mungkin adalah kehendakNya, walau dalam kesesakan apapun. Ketika kamu menyadarinya, di sana dimulai kesempatanmu. Kamu akan merasa sangat beruntung, seperti pembesar yang merasa sangat berkuasa itu adalah waktu dimana kamu tetap bersyukur, dan Tuhan akan menghadiahi kamu jalan kemenangan. Selebihnya ada padamu. Seperti yang kamu katakan pada contoh kekalahan telak. Pejuang mungkin menang dengan kematian dan iman bukan ? Namun pejuang itu tetap berbahagia karena tahu ia sudah menyadari peran Tuhan dan melakukannya !"

"Sebab ketika melihat sesuatu kita diberi pilihan untuk menghampiri atau tidak, dan itu adalah kesempatan. Ketika mendapat dan menjadi berbahagia, itu adalah anugerah. Ketika kehilangan atau tak mendapatkan namun tetap bahagia itu adalah mensyukuri. Namun ketika semua ada dihadapan dan pengetahuanmu namun tak kamu lakukan itu semua ,hakikatnya kamu tidak memperoleh anugerah dan seperti jiwa itu dinamai sudah mati"

2 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. narasi yang ssgt deskriptif tentang korelasi iman,percaya,syukur...dan keberuntungan???
    ya...layaknya seorang yang bersyukur,apapun yang kita lakukan dalam hidup kita karna kita mau mensyukuri apa yang telah dianugerhkan kepada kita..kan smua titipan,begitu kita mati di sini,maka smua ngga bisa kita bawa lagi...
    kembali lagi...apapun yang kita kerjakan,smuanya hanyalah aplikasi yang riil dari syukur kita...supaya bukan hanya sebatas kata..
    karna itu,cukup lakukan...sertai dengan doa dan minta kepada yang Empunya Segala...

    bravo kak...keep one being thankful,keep on writing!!
    love this illustration..
    ^_^

    ReplyDelete

Siapapun jiwa yang berucap, baiknya aku mengenalmu, dan kamu akan lebih pahami aku adanya